Selasa, 23 Juni 2009

TOMANURUNG TANAH LUWU

(oleh; Nawawi S. Kilat)


SEBAHAGIAAN orang kadang mengungkapkan bahwa, To Manurung sering diartikan sebagai turunan dari kayangan dan ditakdirkan untuk memerintah manusia dimuka bumi. Tidak sedikit orang mengungkapkan bahwa To Manurung itu bukanlah manusia sejarah, atau hanya merupakan mitos belaka, akan tetapi penulis lontara dan para petutur di zanan luwu purba di Wotu ketika itu masih terletak disekitar ussu dan bilassa lamoa (kebun dewata) mengungkapkan bahwa raja pertama disebut To Manuru , hal ini disebabkan oleh karena tidak diketahui darimana kedatangannya demikian pula menghilangnya. Jadi sebenarnya oleh masyarakatnya dia dianggap sebagai manusia surgawi atau wija polamoa ( berbeda dengan tradisi-tradisi jawa) tetapi diakui sebagai orang yang datang dan mempunyai kepintaran dan keahlian. Seorang  To Manurung (orang Asing) kadang diangkat sebagai raja (belum tentu raja pertama) oleh karena beberapa alasan antara lain:

a,    Mungkin sebagai daerah bawahan dari suatu kerajaan yang lebih besar.

b.    Karena kehebatan dari pribadi sang pendatang.

c.    Karena alasan politik untuk mempersatukan wilayah.

Dapat disinpulkan bahwa nama ToManurung adalah sebenarnya gelaran yang diberikan kemudian oleh turunan dan masyarakatmya pada seorang tokoh sejarah dari suatu kerajaan yang kadangkala di mitoskan sebagai turunan dari kayangan..Pada umumnya orang sulawesi utamanya orang Luwu mempunyai silsilah baik tertulis maupun tidak yang dihapalkan secara turun temurun.Biasanya pada pertemuan-pertemuan keluarga atau antar keluarga, unpamanya dalam peristiwa peminangan atau pesta-pesta, ungkapan silsilah saling dicocokan kembali oleh para pengatur masyarakat atau para ahli silsilah. Dengan cara-cara ini kebenaran silsilah dapat dipertahankan. Disamping itu silsilah-silsilah masih terdapat cerita-cerita rakyat yang disebut Sinrilli atau Tolo. Kedua duanya adalah cerita-cerita kepahlawanan dan peperangan yang pernah terjadi. Sinrilli dan tolo adalah cerita fakta manusiawi yang bebas dari campur tangan tokoh-tokoh kayangan.

TEMPAT TO MANURUNG TANAH LUWU.

Dari cerita tentang To Manurung, bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Tenggara telah banyak ditulis, baik penulis penulis sejarah dalam negeri naupun luar negeri utama nya Belanda, dan terakhir sastrawan negeri jiran Arenawati Yaitu “ Silsilah Kerajaan Bugis dan Melayu” dimana disebutkan, raja raja nusantara dan semenanjung berasal dari Luwu Sulawesi Selatan yaitu keturunan dari La Maddusala (ejaan malayu La Maddusalat) antara lain hampir seluruh kerajaan disemananjung  Malaysia dan Nusantara. Sebagaimana umumnya orang mengeketahui bahwa kedatuan Luwu atau kerajaan Luwu memiliki sejarah yang sangat panjang, luas wilayah, sisten pemerintahan,asal muasal darimana berasal pangkal awalnya sang tokoh (To Manurung) masih terjadi perdebatan panjang dan tidak pernah selesai. Nomenklatur “Luwu” atau Luwuq belum ada kesepakatan, tetapi secara pasti oleh orang Wotu tempat muasal sang tokoh menyebut Luwu sebagai Luwo yang berasal dari kata “LU” yang berarti sangat luas hal ini dapat dibuktikan bahwa luas wilayah Luwu purba memang sangat luas, terdampar hampir seluruh daratan sulawesi. Suatu hal yang sulit terbantahkan dan hampir telah menjadi kesepakatan bahwa To Manurung Tanah Luwu adalah Sawerigading. Orang Luwu percaya ia turun kedunia dianggap membawa rahmat bagi keselamatan kemakmuran dan kesejahteraan. Hanya kadang sangat disayangkan dan sering terjadi silang pendapat utamanya para etnis yang ada di Luwu ada yang terang terangan mengklaim bahwa dirinya atau clennya yang yang pewaris luwu atau wija sawerigading sementara yang lain adalah tidak sehingga kelompoknya yang berhak berbicara tentang Luwu dan kelompok lain tidak utamanya tentang adat istiadat., padahal bila kita mau mengkajinya secara obyektif mereka semua keturunan atau wija asselinna Luwu, tidak ada yang dapat mengklaim kelompoknya yang wija to Luwu asli karena yang membedakannya adalah fase atau waktu saja, hal ini dapat dilihat dari sudut dimana dan kapan Ware (pusat penerintahan kerajaan Luwu berpusat) dalan catatan sejarah dapat memberikan kepada kita gambaran masa dimana Ware Pertama sampai Ware Kelima.,

1.Ware.Pertama.  Dimulai pada akhir abad ke IX dan memasuki abad keX masehi sampai pada abad ke XIII, dikenal sebagai fase Luwu purba berlangsung kurang lebih 300 tahun lamanya. Pusat kerajaan (Ware) masih di sekitar Wotu lama sampai runtuhnya kerajaan luwu pertama, Wotu lama sebagian  pindah Wotu sekarang, sebagian pindah atau hijrah orang  Wotu menyebutmya cerrea (orang bugis menyebutnya cerekang) dan sebagian menetap disekitar lampia. Kota Malili belum dikenal karena nanti disekitar abad ke XIII barulah ada yaitu pada saat datangnya orang bugis diLuwu.Sebagian penduduk masih menetap dan sebagian lagi mengikuti Datu atau Raja Luwu Anakaji.

2.Ware Kedua. Dimulai pada abad ke XIV masehi ware (pusat penerintahan) berada di Mancapai , dekat Lelewaru diselatan Danau Towuti pada masa pemerintahan Raja Anakaji.

3.Ware  Ketiga Dimulai disekitar abad ke XV Masehi. Ware  (pusat kerajaan) berada di Kamanre, ditepi Sungai Noling sekitar 50 km selatan Kota Palopo Rajanya dikenal; sebagai Dewaraja.

4. Ware Keempat Dimulai pada abad ke XVI Masehi pusat kedatuan Luwu (ware) di pindahkan ke Pao, di Pattimang Malangke dan disini peristiwa besar tercatat yaitu masuknya agama Islam di tanah Luwu.

5. Ware Kelima Dimulai ketika memasuki abad ke XVII Malangke menjadi surut sehingga Ware berpindah ke Palopo sampai dengan sekarang.

          Jika kita menyimak catatan perjalanan ware diatas, maka tidak ada satu kelompokpun yang dapat mengklaim dirinya sebagai peduduk asli Luwu dan berhak menyebut alenami tomatase”na Luwu karena semua suku bangsa berdasarkan adat luwu adalah penduduk asli Luwu dan berkewajiban mematuhi siapapun yang menjadi Datu ri Luwu. Orang Wotu termasuk Pamona,To padoe(mori) dan Tolaki tidak bisa dipungkiri sebagai penduduk luwu purba abad X, tidak bisa juga mengklaim bahwa dialah penduduk asli Luwu. Walaupun diakui bahwa mereka adalah pewaris Macoa.Orang Palopo dan sekitarnya tidak dapat juga mengklaim bahwa hanya merekalah peduduk asli Luwu walaupun mereka memangku jabatan adat pada masa ware terakhir sampai sekarang, disisilain tidak dapat pula dikesampingkan peran pada masa ware kedua,ketiga dan keempat, semua memiliki peran yang sama, hanya waktulah yang membedakannya.semuanya keturunan para tomanurung.... (Penulis adalah wakil Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Raya Sulawesi Tengah)

Kamis, 11 Juni 2009

Kembalikan Wotu Padaku

Oleh: Nawawi Sangkilat

A. PENDAHULUAN

SEBAGAIMANA diketahui, pulau Sulawesi adalah salah satu pulau terbesar di gugusan kepulauan nusantara. Nama Sulawesi juga telah menjadi misteri tentang siapa yang pada awalnya memberikan nama pulau ini menjadi pulau Sulawesi. Akan tetapi besar dugaan bahwa orang yang bersejarah memberikan nama pulau ini sebagai Sulawesi yaitu Prof. Moh. Yamin sebagai ganti dari nama yang sebelumnya yaitu Celebes yang dikenal pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Sebenarnya nama Celebes pada awalnya dikenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal yang bernama Antonio Calvao pada tahun 1563. Celebes oleh Antonio Calvao dimaksudkan sebagai ”ternama” atau tanah yang makmur yang terletak di garis Khatulistiwa. Celebes bagi orang Belanda menyebutnya dari kata Cele Besi yaitu Cele (Keris, badik atau kawali)`yang dibuat dari Bessi`(Bugis). Sebuah anekdot dalam masyarakat yang konon menurut cerita yang dituturkan oleh seorang Belanda yang bertanya kepada seseorang yang secara kebetulan seorang bugis. Orang Belanda bertanya tentang nama tempat atau pulau, akan tetapi disalahartikan oleh orang Bugis yang menurut sangkaannya orang Belanda tersebut menanyakan nama senjatanya, lalu dijawabnya sele (keris) bessi (besi). Terlepas atas kebenaran cerita tersebut tetapi kenyataannya pulau Sulawesi sejak dahulu adalah penghasil bessi (besi), sehingga tidaklah mengherankan Ussu dan sekitar danau Matana mengandung besi dan nikkel. Bessi Luwu atau senjata Luwu (keris atau kawali) sangat terkenal akan keampuhannya, bukan saja di Sulawesi tetapi juga di luar Sulawesi, sehingga seorang novelis terkemuka Kho Ping Ho (Asmaraman) menggambarkannya dalam cerita ”Badai di laut Selatan” di dalamnya diceritakan kehebatan atau keampuhan Keris Brojol Luwu yang kini telah menjadi pusaka kerajaan Airlangga.

B. PERIODE PEMERINTAHAN KERAJAAN LUWU
Kerajaan Luwu yang kita kenal sekarang telah memiliki sejarah yang sangat panjang sehingga dari sudut pandang geo politik, para ahli terkadang dibingungkan oleh kemashuran Luwu sebagai sebuah kerajaan terbesar dan tertua di Sulawesi. Bahkan menampakkan kesejajaran kronologis atau kemitraan horizontal dengan raksasa Majapahit. Dan dari sudut pandang ekonomi, sulit memahami bagaimana entitas politik ekonomi Luwu dapat memasuki kontak-kontak interregional dan internasional. Sementara dari sudut pandang letak geografisnya boleh dikatakan agak terpencil pada sebuah teluk yang jauh meletak membelah dua semenanjung selatan dan tenggara yang sempit dan runcing. Kedatuan Luwu yang pernah besar pada suatu masa di mata nasional maupun internasional. Kajian tentang Kedatuan Luwu terutama pada wilayah proto sejarahnya yang begitu lambat dan ketinggalan oleh daerah lain diperparah lagi oleh kurangnya dorongan pemerintah setempat dalam mensosialisasikan kebesaran Kedatuan Luwu, padahal dalam kitab yang ditulis oleh sastrawan terkemuka Empu Prapanca dalam bukunya Dasa wardana atau Nagara Kertagama yang ditulis pada tahun 1365 Kedatuan Luwu sudah terjabarkan dengan sangat baik di sini. Dalam periode –periode pemerintahan Kedatuan Luwu, pusat pemerintahan atau ibu kota disebut dengan Ware (pusat tanah Luwu) yang merupakan wilayah khusus dan istimewa sehingga itulah sebabnya Sawerigading juga bergelar Opunna Ware ( Rajanya Ware). Adapun periode pemerintahan Datu Luwu sebagai berikut;

Pada periode Pertama pusat Kerajaan Luwu (Ware Pertama) dimulai pada sekitar abad ke X hingga abad ke XIII, ketika itu Ware disekitar Ussu, yakni tempat asal mula turunnya Batara Guru ke permukaan bumi lengkap dengan istananya, kini daerah tersebut menjadi tabu untuk dimasuki oleh sembarang orang. Pada periode Kedua dimulai ketika memasuki awal abad ke XIV pusat kerajaan Luwu (Ware Kedua) dipindahkan oleh Datu Luwu Anakaji, ke Mancapai, dekat Lelewawu, disebelah selatan Danau Towuti yang kini berada di Propinsi Sulawesi Tenggara. Pada priode Ketiga pusat Kerajaan Luwu ( Ware Ketiga) dimulai pada sekitar abad ke XV, dipindahkan oleh Datu Luwu yang bernama Dewaraja ke Kamanre, ditepi sungai Noling, atau sekitar 50 kilometer sebelah selatan kota Palopo. Adapun strategi perpindahan ini dilakukan dengan maksud memperluas kerajaan kesebelah selatan, tetapi sayangnya usaha tersebut terhalang dengan adanya perlawanan yang keras dari kerajaan Bone, yang mengakibatkan Kedatuan Luwu kehilangan wilayah Cenrana, Wage dan Laletonro. Pada periode Ke empat pusat kerajaan Luwu ( Ware Keempat) pada sekitar abad ke XVI Ware dipindahkan ke Pao, di Pattimang Malangke. Dan pada periode ini agama Islam masuk ke Luwu, yang diperkenalkan oleh Dato Pattimang sekitar tahun 1603. Pada saat Ware perpusat di Pao telah terjadi peristiwa perebutan tahta yang menimbulkan pertikaian antara putra mahkota Patiraja dan adiknya yang bernama Patipasaung. Perang saudara tidak dapat terhindarkan, walaupun pada akhirnya dapat dipadamkan oleh Madika Bua, Madika Ponrang dan Makole Baebunta. Madika Bua telah berperan sebagai inisiator sekaligus ketua perdamaian. Perang saudara ini diakhiri dengan penyerahan kekuasaan kepada raja yang sah, Patipasaung, oleh kakaknya Patiraja. Pada Periode Kelima pusat kerajaan Luwu (Ware Kelima) dipusatkan di Palopo sampai dengan sekarang. Dan atas jasa-jasanya meredam perang saudara di Pao, tiga kerajaan pendukung yaitu Bua, Ponrang dan Baebunta diangkat statusnya menjadi Anak Tellue atau tiga kerajaan utama di Luwu.

C. WOTU YANG TERLUPAKAN
Pada kesempatan ini kami mencoba mengungkap secara sekilas keberadaan Wotu dalam percaturan perpolitikan pemerintahan Kedatuaan Luwu, yang terkadang dilupakan ataukah kemungkinan sengaja untuk dilupakan. Wotu yang kita kenal sekarang ini, merupakan sebuah wilayah pemukiman setingkat Kecamatan dan secara administratif berada dalam Kabupaten Luwu timur, terletak diujung utara Teluk Bone dan sebelah barat sungai Kalaena. Wotu di diami dua etnik yang besar yaitu Wotu dan bugis. Keunikan Wotu seperti juga didaerah Luwu yang lainnya, misalnya Baebunta yang berlaku dua bahasa pengantar, bahasa Wotu dituturkan pada umumnya orang Wotu ”asli” dan diduga merupakan grup linguistik Muna, Buton dan Kaili, dan bahasa Bugis.

Wotu yang kita diami sekarang ini adalah Wotu pada periode kedua, yaitu setelah runtuhnya dinasti Kedatuan Luwu pada periode Ware Petama sekitar akhir abad ke XIII. Letak Wotu sebelumnya berada disekitar Ussu di kaki Gunung Lampenai, disekitar tempat ini disebut sebagai lokasi Mulataue atau mulaitoe. Sebagaimana juga dipahami oleh banyak orang Luwu, bahwa Batara Guru mengajarkan bagaimana cara berladang dan bercocok taman yang baik di lokasi Mulaitoe oleh orang Wotu menyebutnya sebagai Bilassa Lamoa atau Kebun Dewata. Di sekitar wilayah inilah oleh Ian Caldwell yang merupakan Dosen Sejarah Indonesia di Universitas of Hull yang menulis Land of iron, The historical archaeology of Luwu and the Cenrana valley, menyebutkan bahwa di tempat inilah pusat istana Luwu yang dimiliki oleh Batara Guru yang pertama. Dalam La Galigo, tempat dimana pusat istana tersebut tidak disebutkan secara akurat.

Sebagaimana diketahui dalam tradisi, Luwu dianggap sebagai daerah tertua untuk pemukiman Bugis dan merupakan kerajaan Bugis tertua dan yang paling bergengsi. Beberapa sejarawan percaya bahwa mahkamah Luwu merupakan asal mula kebudayaan dan tradisi masyarakat elit Bugis (contohnya Prof. Kern 1939;9, Prof. Zainal Abidin.1983;249) Dalam penelitian terakhir olehss proyek The Origins of Complex Society in South Sulawesi (OXIS Proyek) meragukan tradisi ini karena hasil penggalian kramik dari Malangke (Pusat Istana Luwu sebelum kira-kira tahun 1620) daerah ini menunjukan suatu daerah yang tidak berpenghuni atau ditempati hingga sekitar tahun 1300. Periode kejayaan atau kemakmuran ini adalah abad ke XV dab XVI ( Bulbeck dan Caldwell 2000; 92). Luwu sebagai kerajaan yang tertua terletak pada kenyataan bahwa bagian awal dari LaGaligo terdapat di Luwu. Di Luwulah tempat dimana Batara Guru turun untuk mendirikan kerajaan yang pertama. Disini jugalah pohon raksasa Welenreng ditebang untuk membangun perahu-perahu Sawerigading (Pelras 1996; 59). Padahal, dua tempat di Luwu menyatakan bahwa disitulah bukit dimana Istana Batara Guru pernah berdiri. Menurut Ian Caldwell daerah yang pertama adalah Wotu. Indikasi lainnya dan lebih banyak dikenal adalah bukit Pensimewoni yang terletak ditikungan sungai Cerekang (cerrea). Jika ada anggapan seakan-akan membenarkan adanya pendapat bahwa letak Istana Batara Guru yang pertama berada di Cerekang menurut Ian Caldwell adalah hanyalah merupakan sebuah mitos atau tidak benar, karena pemukiman Bugis di Cerekang baru dimulai pada sekitar tahun 1450,berhubungan dengan naiknya peleburan besi dan produksi alat-alat senjata di Matano. Hal ini merupakan suatu godaan untuk beranggapan bahwa masyarakat Bugis di Cerekang telah secara nyata mengadopsi mitos istana Batara Guru dari tetangganya, Wotu yang lebih tua. Pendapat ini diperkuat dari hasil penelitian OXIS yang menyebutkan ” Tidak ada bukti apapun yang menunjukan penduduk masyarakat Bugis di Cerekang maupun Ussu sebelum pertengahan abad ke XV. Hal ini berarti bahwa identifikasi atas lokal atas Cerekang sebagai tempat istana Batara Guru lebih tepat berlaku dari abad ke XVI ke atas. Lokasi dari pusat istana Luwu disini dalam tradisi lisan secara nyata adalah penempatan kejadian pada waktu yang salah (anakronisme).

Ekspansi orang Bugis ke Ussu dan Cerekang berlangsung pada fase belakangan sejarah Luwu pra Islam, jika tidak setelah masuknya Islam ke Luwu. Tampinna, Cerekang dan Malili, pada mulanya didiami oleh penduduk non Bugis yaitu Wotu, Pamona, Topadoe dan Tolaki. Berdirinya Istana Batara Guru pertama di Wotu lama atau disekitar Bilassa Lamoa terpat permadian yang utama para bangsawan pada saat itu yaitu di Ussu atau orang Wotu menyebutnya tempat Minussu atau menyelam. Pelabuhan utamanya terletak di Pentomua serta tempat pemujaan yang paling utama berada disebelah selatan Wotu lama yaitu Serebessue (Tempat para bissu menari). Berdasarkan penelitian dari OXIS pengaruh Hindu hanya ada dua tempat di Luwu, yaitu Wotu dan Baebunta dengan ditemukannya kremasi mayat di tempat ini. Ketika runtuhnya Ware pada priode pertama Wotu lama pindah ke bagian barat yaitu Wotu yang ada sekarang, sebahagian yang lainnya pindah ke bagian utara yaitu Cerrea (hijrah atau pindah tempat) akan tetapi sangat disayangkan setelah datangnya orang Bugis di Cerea sekitar tahun 1450 nama Cerrea berobah menjadi Cerekeng. Akan tetapi walaupun demikian orang-orang yang ingin mengaburkan sejarah dan jejak Wotu di Cerrea mengalami kesulitan untuk mengganti nama pimpinan masyarakat adatnya yang tetap disebut sebagai Pua (nenek) Cerrea, mereka mengalami kesulitan mengganti dengan nama nene Cerekeng. Air bertuah yang di kramatkan sebagai air suci bagi orang Wotu yaitu Uwe Mami (air kami) sulit diterjemahkan dan diganti jadi nama Waeta. Sebenarnya jejak keberadaan Wotu pada sejarah Luwu purba sulit terbantahkan antara lain. Nama Gunung Lampenai adalah terjemahan dari kata Parangpanjang atau tempat pandebesi membuat senjata. Tampinna atau tempat membuat sarung senjata tau parang. Pentomua atau pelabuhan tempat dimana pertemuan antara dua komunitas, Serrebessue dan sebagainya.

Sebagaimana diketahui bahasa Wotu juga merupakan identitas orang Wotu,keunikan Wotu seperti yang dicatat oleh Bulbeck dan Prasetyo (1999) yaitu iklimnya yang memusim dari pada daerah Luwu lainnya. Perbedaan geografi budaya ini telah menarik perhatian beberapa sarjana. Kembali ke bahasa Wotu sebagai identitas orang Wotu ini, telah membentuk mata rantai pola segi tiga hubungan dengan kedua ujung semenanjung selatan dan tenggara Sulawesi yang memungkinkannya masuk dalam jaringan niaga teluk Bone. Dengan demikian, isolasi bahasa seperti pandangan sekarang justru bisa berarti sebaliknya, ini menunjukan bahwa Wotu telah menjadi akses kuna bagi para pedagang lintas semenanjung selatan, tenggara dan tengah. Kepopuleran bahasa Wotu memberi kita sebuah horizon yang agak jelas tentang tentang Wotu ddaan bukti-bukti arkeologis dan legenda Wotu yang tua, sehingga Bulbeck n Prasetyo menduga bahwa mungkin sejak tahun 1200-an orang Wotu telah aktif berniaga memperdangangkan produk-produk dari kedalaman jauh di Sulawesi Tengah dan lembah-lembah Danau Poso. Jejak tersebut bahkan terekam dalam teks I La Galigo, bahwa orang Wotu di sungai Pewusoi sekitar Gunung Lampenai, membuat kapal-kapal Kedatuan Luwu.

Konsep-konsep kepemimpinan di Luwu cukup mendapat perhatian bila di hubungkan dengan konsep kepemimpinan tradisional, Pua (Cerrea), Makole (Baebunta) dan Macoa (Wotu). Dari tradisi lisan Wotu, kita mendapat informasi bahwa Macoa Bawalipu dalam mewnjalankan pemerintahannya membawahi tiga macoa yang lain, yaitu Macoa Bentua yang menangani urusan dalam negeri, Macoa Mincara Oge yang mengurusi masalah ekonomi. Macoa Palemba Oge yang bertugas dalam hubungan dengan Macoa Bawalipu dan Datu Luwu di Palopo. Di bawah Macoa tersebut terdapat sejumlah jabatan yang menangani bidang tertentu. Ada tiga orang bergelar Oragi, yaitu Oragi Bawa Lipu, Oragi Datu, dan Oragi Ala. Dibawahnya terdapat enam orang bergelar Anre Guru antara lain antara lain Anre Guru Oli Tau, Anre Guru Tomengkeni, Anre Guru Pawawa, Anre Guru Lara, dan Anre Guru Ranra. Selanjutnya ada jabatan Angkuru atau sanro sebagai penasihat, dan ada dua lagi bergelar paramata, yaitu Paramata Tarompo (Rompo) dan Pramata Lewonu (lihat Mas’ud Rahman et.al 1999). Selanjutnya dalam silsilah orang Wotu diceritakan bahwa Macoa Bawa Lipu yang pertama di Wotu bernama Bau Jala, Bau Jala mempunyai tiga orang saudara kandung yaitu Bau Cina di Palopo, Bau Leko di Palu dan Bau Kuna di Buton. (lihat Salombe dkk 1987, sande dkk.1991).

D. PENUTUP
Kepercayaan terhadap Sawerigading yang selalu berpusat di Ware telah dipercayai di seluruh wilayah Kedatuan Luwu, juga sebagaimana halnya juga dipercayai oleh orang Wotu sebagai salah satu komunitas yang sangat besar pengaruhnnya, tidak hanya di Luwu tetapi sampai di Sulawesi Tengah. Dari perspektif sejarah dan antropologi, menarik untuk diperhatikan bahwa Wotu, dari segi geografi budaya berbeda dengan domain Luwu lainnya. Legenda Wotu tidak terlepas dari epik I La Galigo yang selalu diacu oleh hampir setiap pusat-pusat pemukiman kuno, yang mungkin sekali menjadi populer berkat transfer kultural elit kerajaan dan pedagang bugis selama gelombang migrasi Bugis keseluruh pesisir Teluk Bone, namun harus di garis bawahi bahwa orang Wotu mempunyai latar sejarah yang jelas terlepas dari dinasti Luwu. Pendekatan sosio-linguistik jelas memberi petunjuk bahwa orang Wotu mungkin berasal dari pusat-pusat niaga di bagian lain pesisir teluk Bone, telah mengokupasi sungai Kalaena dan Wotu sebelum terbentuknya Dinasti Luwu.

Wotu, 1 Mei 2008.(nskilat@yahoo.com)

Bahasa Wotu dan Eksistensinya



JIKA anda mengetahui bahwa Wotu adalah nama sebuah daerah berupa kecamatan yang ada di Kabupaten Luwu Timur, Propinsi Sulawesi Selatan, ternyata memiliki bahasa tersendiri dalam berkomunikasi dengan warga lainnya, yaitu Bahasa Wotu.

Wotu merupakan daerah yang di dalam Cerita La Galigo (La Galigo adalah epik terpanjang dunia. Ianya wujud sebelum epik Mahabharata. Ianya mengandungi sebahagian besar puisi ditulis dalam bahasa bugis lama-Wikipedia), menjadi pusat turunnya Tomanurung, Orang pertama di Kerajaan Luwu, yang pada akhirnya pusat pemerintahan Kerajaan Luwu berpindah ke Kota Palopo. Di Wotu sendiri ada Macoa Bawalipu, atau Saudara Tua Raja Luwu yang tinggal di Wotu.

Orang-orang memperkirakan bahwa Bahasa Wotu merupakan cikal bakal dari bahasa-bahasa yang ada di Nusantara ini, seperti bahasa bugis dan bahasa-bahasa lainnya yang berada di daerah sekitar Asia Tenggara. Bahasa Wotu memang beberapa ada kemiripan dengan Bahasa Bugis, Makassar, Bahasa Toraja, ataupun bahasa Tomona di Daerah Sulawesi Tengah, maupun bahasa di beberapa daerah lain karena kedekatan geografis daerah dan asal-usul bahasa-bahasa mereka juga diceritakan oleh orang-orang tua berasal dari Wotu.

Update : seperti yang saya tulis di posting saya di sini bahwa kemiripan bahasa Tagalog dan bahasa-bahasa di Philipina dengan Bahasa Wotu juga ada, seperti kata untuk menyebutkan ayah= ama dan ibu-ina.

Seperti kita melihat bahasa Wotu dianalogikan dengan keadaan seperti hidung dalam bahasa Wotu adalah ango, untuk menyebutkan angka satu, dua, tiga, dan empat itu menggunakan ango, karena ketika berbicara hanya sampai 4 lubang hidung yang ada. Berikut beberapa angka dalam bahasa Wotu :

Satu : sango
Dua : duango
Tiga : taloango
Empat : patango
Lima : alima
Enam :ana
Tujuh : pitu
Delapan :walu
Sembilan : sassio
Sepuluh : sapuluh
seribu : sangsou
seratus : satu

Itu beberapa sejarah munculkan kata-kata dalam bahasa Wotu yang bisa menjadi salah satu alasan bahwa Bahasa Wotu merupakan bahasa asli yang langsung dari orang yang pertama menggunakan bahasa.

Kemiripan bahasa terlihat dari beberapa kata, seperti angka tiga yang di beberapa daerah menggunakan kata Tellu, Tallu, Talo yang dipakai di Jawa, Sunda, bahasa Tagalog, dan sekitarnya. Atau Tujuh dengan kata pitu.

Beberapa bukti keaslian bahasa ini juga adalah tidak adanya huruf mati dalam setiap kata dalam Bahasa Wotu ini, bisa dilihat di Kamus Bahasa Wotu Singkat di bagian bawah. Jika ingin mengetahui lebih dalam ada buku Morfologi dan Sintaksis Bahasa Wotu dikarang oleh JS Sande (saya juga belum baca :D ).

Orang Wotu beranggapan bahwa jika dia orang Wotu berarti dia tau berbahasa Wotu. Memang begitulah idealnya namun sebagian juga ternyata sudah berevolusi dengan bahasa Indonesia, sehingga lambat laun bahasa ini akan menghilang jika tidak dilestarikan.

Barangkali keadaan yang memaksa kita untuk tidak lagi menguasai bahasa itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Asimilasi kita dengan bahasa-bahasa lain sehingga melupakan identitas bahasa ibu kita.

Kita bisa merasakan bahwa perlunya bahasa daerah ketika sedang keluar dari daerah asal, sehingga kita baru mengingat kembali perlunya mengetahui bahasa dan sejarah daerah kita kembali. Jadi teringat Lagu “Makassar Bisa Tonji” yang berisi kritikan terhadap orang yang sudah melupakan bahasa asli Makassarnya karena berlogat :D

Kamus Bahasa Wotu (sebagian besar bersumber dari Rijal, saudara sepupu saya :D )

=Keluarga=
Ayah : ama
Ibu : ina
Siapa : sema
Om/tante : uwak
Sepupu sekali : topisa
Sepupu dua kali : topenrua
Cucu : anopu
orang tua : tumattua

=arti=
Dibakar api : kande api
berjalan : molanga
buang air besar : tottai/mojamba
jalan : dala
jatuh: boto
Kulit : uli
Nama : sanga
mengatakan : motae
adik : andri
menikah : siala
kakak : kaka
bulan : ula
duduk : tumongko
Turungnga : sungai
lari : cere
jelek : kadake
baik : kaballo
bersamalah= suranga ta
laut : tasi
berkerut : si kapurru
pantat : tambe
kepala : ba
tangan : jari
manis : macanni
kaki : aje
sepotong : sapale
Turun : mono
mendengkur : manggoro
Bertemu : siruntu/sintomu
Naik : mene
Timba : Pattenru
Perahu : lemba
mencuri : minnau
Ikan : bete
Tidur : maturu
bangun : tumongko
rokok : tole
rumah : wanua
bersama : suranga
baju : badu
celana : sularra
memanjat : mennea
kelapa : kaluku
melawan : mangewa
lawan : bali
teman : ranga
terbang : molao
sama panjang : sumanrate
orang : ito
potong ayam : sumbele manu
jauh : marido
menangis : tomangi/karra
sekumpulan : sipuluanna
dibuang : ibana
tenda : semba
parang : ambera
rambut :luwa
kurang ajar : kurayya
gila : ombe
durian : tampia
pisang : punti
air : uwe
air panas : pinane
panas : mapane
jangan : billi
sayur : buaju
aku : iyau
tiang : patotto
memasukkan : palopo
dingin : madingngi
membeli : mangali
menjual : mobalu
di dalam : ilara
di luar : isalua
diam : makko
beras : barra
merah : maeja
hitam : maeta
kuning : maunni
gunung : bulu
hidung : ango
gula merah : golla eja
perempuan : bawine
laki2 : muwane
besar : oge
kecil : bacici
anak2 : ngana2
patah : pale/polo
sumur : bubung
berbaris : barisi
tiga ekor : tallu mba
hujan : uda
bambu : salolo
kuburan : kaburru
tidak tau : edo sani
Allah ta ala : Pungga Taala
tertua : macoa
pertemuan : pentomua
sagu : tabaro
tidak mau : cia
marah : cai
kebun : bilassa
hidup : tuwo
bantal guling : kanggulu
kelambu : boco
pasar : posarra
pipis : tole
tersangkut : sappe
mandi : mandriu
ikan kering : bete kossi
sarung : lipa

= Dialog =
Mau pergi mana ? : Mai pasi?
Siapa namamu? : Sema sangata/sangamu?
Kabar baik : Kareba Kaballo ba.
Saya mau mandi : iyau melu mandriu
Jangan mau diganggu orang : Edo melo lagarrui itoe
Tidak juga kamu : Edo dua io
Turun ke sungai : mono turungnga
Jangan ribut : billi marea
sampai pada waktu : anularatteme wattu u

Bias Bahasa (terinspirasi postingan teman saya di sini)

Dalam bahasa Wotu juga dikenal kata yang berhomofon yaitu tole yang artinya bisa buang air kecil (pipis) atau merokok, tergantung konteks kalimatnya. Jadi ketika kita ngomong “mipa tole” ada 2 kemungkinan pergi (lagi) merokok atau pergi (lagi) buang air kecil :D

Ketika orang Wotu berkata “edo sani” bukan berarti menyebutkan pasangan Edo dan Sani, tapi mengatakan bahwa tidak tau. Bagaimana jika kata itu dikatakan kepada orang-orang yang tidak tahu berbahasa Wotu.

Kalau orang Wotu berada di antara orang Minang, trus dia berkata “uda untuk mengatakan hujan, ternyata bukan untuk memanggil paman dalam artian berbahasa Padang. :D

Kata Marido dalam bahasa wotu adalah jauh, sedang dalam bahasa Arab : sakit (bagi wanita) :D

Demikianlah bahasa ibu, bahasa yang harus tetap dipertahankan untuk tidak hanya menjadi catatan sejarah, tapi merupakan identitas yang maha luhur.((oleh: Asruldin Azis)